Hasil Pilpres 2014

Pilpres 2014 begitu berwarna, karena hanya dua calon, semua kesalahan dari salah satu kelompok pasti mudah terlihat. Selain itu, banyaknya black campaign, permaiann media, dan pencitraan juga mewarnai pilpres kali ini. Semoga pilpres ini berjalan dengan lancar dan dapat berakhir dengan lancar. aamiin.

Sebenernya saya ga begitu peduli mau presidennya Pak Prabowo atau Pak Jokowi, toh keduanya merupakan orang-orang baik dan ingin agar bangsa ini menjadi lebih baik, terlepas dari permainan media yang mereka berdua mainkan.

So, semoga Indonesia setelah ini dapat damai dan maju selamanyaa,,

#HAILINDONESIA

NB: Lupa, klo harusnya ada keterangan Daynya,, hmm..,, berhubung Day 7744 tu 10 Mei 2014 berarti sekarang Day 7821.

Day 7744, Kontrasepsi Dalam Perspektif Agama

Ayah     : Bunda pasang IUD dong.., biar kita bisa kasih jarak buat anak kita..

Bunda   : Nggak mau, Yah.., bukannya IUD itu haram ya? Kan itu memutus kehamilan kan? Padahal Nabi ingin melihat umatnya bertebaran di muka bumi kan, Yah?

Ayah     : Ya maksudnya bukan itu Bun.. Tapi kan kita perlu merencanakan jarak kelahiran anak kita, biar nanti kita nggak kesulitan soal pembiayaan pendidikannya?

Bunda   : Ayah nih, mikirnya uang melulu… Kita harusnya percaya kalau rezeki itu ada di tangan Allah, jadi kita hanya perlu berusaha mencarinya.

Ayah     : Iya sih Bun, tapi kan kita juga harus merencanakan masa depan dengan baik..

Bunda   : Nggak ah Yah, Bunda takut kontrasepsi. Bunda takut dosa..

Ayah     : hmm… (menghela nafas).

 

Dialog di atas merupakan sepenggal kisah yang terjadi pada umat muslim akhir-akhir ini. Mayoritas umat muslim merasa ragu-ragu untuk segera memiliki anak dikarenakan besarnya biaya yang harus ditanggung agar dapat membesarkan seorang anak dengan baik. Namun, tidak sedikit pula yang ragu tentang boleh atau tidaknya mekakai alat kontrasepsi. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita teliti dulu apa itu kontrasepsi?

 

Pengertian Kontrasepsi

Dalam ilmu kedokteran modern, kontrasepsi memiliki beberapa pengertian yang dapat saling melengkapi satu sama lain. Sinsin (2008) berpendapat bahwa kontrasepsi adalah alat atau obat yang bertujuan untuk menjarangkan kehamilan. Brooker (2009) berpendapat agak berbeda, kontrasepsi bukanlah obat namun kontrasepsi adalah metode yang digunakan untuk mengatur jarak kehamilan dan mengatur jumlah anak, atau mencegah untuk mencapai konsepsi. Lain halnya dengan Stright (2005) yang berpendapat bahwa kontrasepsi adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran. Kesimpulannya, kontrasepsi merupakan semua proses, alat, metode, maupun obat yang bertujuan untuk mencegah konsepsi sehingga dapat mengatur jarak kehamilan dan jumlah anak.

Nah, setelah pengertian kontrasepsi jelas, berikutnya adalah tentang jenis-jenis kontrasepsi.

 

Jenis-Jenis Kontrasepsi

Jika dibedakan menurut cara kerjanya kontrasepsi dapat diklasifikasikan menjadi empat metode non-permanen dan satu metode permanen yang dijelaskan sebagai berikut (Brooker, 2009):

  1. Metode perintang, yaitu menghalangi fertilisasi dengan cara mencegah pertemuan antara sperma dan oosit (sel telur). Metode ini meliputi cervical cap, diafragma, kondom, dan kondom wanita.
  2. Metode hormonal, yakni mencegah ovulasi atau implantasi jika oosit sudah dibuahi. Metode ini termasuk kontrasepsi oral, baik kombinasi hormon estrogen-progesteron, pil progesteron (mini-pil), progestogen lokal melalui injeksi maupun implant subdermal, alat kontrasepsi dalam rahim berisi progesteron saja, dsb.
  3. Metode alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah mencegah implantasi dengan berbagai alat yang berfungsi untuk melepaskan dan melembamkan progesteron. AKDR yang mengandung tembaga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat jika dipasang dalam 5 hari setelah hubungan seksual tanpa pelindung.
  4. Membunuh sperma (Spermisida) dalam bentuk busa, pesarium, dan spons yang biasanya dikombinasikan dengan metode perintang.
  5. Metode permanen dengan cara merusak alat reproduksi pada pria dan wanita. Misalnya: tubektomi pada wanita atau vasektomi pada pria.

 

Jadi IUD yang dipermasalahkan di atas termasuk dalam metode AKDR yang berfungsi untuk mencegah implantasi yang sifatnya tidak permanen. Setelah tahu pengertian dan jenisnya berikutnya kita akan membahas fatwa ulama terkait alat kontrasepsi.

 

Alat Kontrasepsi Dalam Pandangan Islam

Alat kontrasepsi merupakan hal baru yang muncul di jaman ini. Pada masa dahulu, umat Islam hanya mengenal ‘Azl sebagai satu-satunya cara untuk menunda kehamilan. Keberadaan ‘Azl dibuktikan dari hadis Jabir Radhiyallahu’anhu. Beliau berkata, “Kami melakukan ‘azl pada masa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dimana al-Qur’an masih terus diturunkan, dan hal tersebut diketahui oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam tetapi beliau tidak melarangnya.” (HR. Al-Bukhari (no. 5209), Muslim (no. 1440)). ‘Azl tidak diperbolehkan secara mutlak, tetapi terdapat syarat-syarat yang memperbolehkan ataupun melarangnya. Namun, pada dasarnya ‘Azl hanya menunda atau mengatur kehamilan (Tandhim Nasl), bukan memutus kehamilan (Tahdid Nasl).

Mayoritas ulama zaman ini seperti Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad’i, Syaik Shalih bin Utsaimin, dan Syaikh Bin Baaz berpendapat bahwa kontrasepsi diperbolehkan, selama tidak menunda kehamilan secara mutlak dan memiliki alasan kuat. Alasan kuat di sini artinya, sang Ibu berada dalam bahaya jika hamil kembali atau Ibu tersebut ingin menunda untuk menyusui dan membesarkan anaknya. Tentu saja jika alasan tersebut berhubungan dengan kondisi medis, maka harus atas saran dari dokter spesialis kandungan.

Hal berbeda adalah membatasi keturunan atau memutus kehamilan (Tahdid Nasl). Jika sebuah keluarga bersepakat untuk membatasi anak hanya dengan dua orang saja dengan tujuan untuk mempermudah dalam urusan dunia. Maka , hukum membatasi keturunan dengan tujuan seperti ini dalam agama Islam diharamkan secara mutlak. Hal ini diterangkan oleh Lajnah daaimah yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Fatawal Lajnatid Daaimah, (9/62) no (1584). Selain itu, berbagai lembaga yang bergerak dalam keilmuan Islam juga melarang adanya pemutusan keturunan secara mutlak, yang dicerminkan dalam Keputusan Muktamar Lembaga Riset Islam Kedua di Kairo (1385H/1965M), Keputusan Majelis Pendiri Rabithah Alam Islami pada sidang ke 16, keputusan MUI dalam Sidang ijtima’ Majelis Ulama Indonesia di Padang Panjang pada tanggal 24-6 Januari 2009, dan Keputusan majelis al Majma’ al Fiqhil Islami (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (30/286)). Pembatasan keturunan bertentangan dengan tujuan-tujuan agung syariat Islam yang menyarankan pada umatnya untuk memperbanyak keturunan.

 

Diskusi Mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Pandangan Islam

Al Qur’an memandang anak-anak sebagai sumber kebahagiaan di dunia (QS An Nahl: 72, QS Al Kahfi: 46). Di dalam Al Qur’an tepatnya surat An Nisa’ ayat 9 telah diterangkan bahwa orang tua harus mendidik anak-anaknya hingga menjadi orang yang kuat. Namun, dalam surat Al Isra’ ayat 31 kita dicegah untuk membunuh anak-anak kita jika takut miskin karena rezeki datangnya dari Allah.

Terdapat pula berbagai hadist yang menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan lelaki untuk menikah dengan wanita yang bisa memiliki banyak anak. ”Nikahilahwanitayang banyakanaklagi penyayang,karenasesungguhnyaaku berlomba-lombadalambanyakumatdenganumat-umatyang laindiharikiamat(dalam riwayatyang lain:denganparanabi diharikiamat)“.[HaditsShahihdiriwayatkanoleh Abu Daud 1/320,Nasa'i2/71,IbnuHibbanno.1229,Hakim2/162(lihattakhrijnyadalam Al-Insyirahhal.29 AdazbuzZifafhal60);Baihaqi781,AbuNu'aimdalamAl-Hilyah3/61-62]/ Memiliki anak juga merupakan salah satu wasilah untuk menggapai surga Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (Kitab al-Maudhuuaat (2/281), al-’Ilal mutanaahiyah (2/636) keduanya tulisan imam Ibnul Jauzi, dan Silsilatul Ahaaditsidh Dha’iifah” (no. 3580)). Kedua hal di atas secara tidak langsung meminta kepada umat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk memiliki banyak keturunan dan menghindari untuk membatasi keturunan.

 

Kontroversi Kontrasepsi Tidak Hanya Dalam Ajaran Islam

Pada awalnya, semua Gereja Kristen mengajarkan pada umatnya bahwa kontrasepsi itu dosa. Dikatakan bahwa Alah memaksudkan seks untuk penciptaan kehidupan baru dan orang tidak boleh mencampurinya. Namun, saat ini gereja-gereja kristen telah memperbolehkan alat kontrasepsi dengan mempertimbangkan bahwa seks bukan sekedar membuat anak (Hadi, et al., 2000).

Sikap Gereja Katolik terkait kontrasepsi ditetapkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1968 dengan mengeluarkan ensiklik tentang ‘Hidup Manusia’ (Humanae Vitae), yang pada intinya menolak kontrasepsi dikarenakan bertentangan dengan Hukum Kodrat, menyebabkan masyarakat memandang perempuan sebagai permainan seksual, dan memisahkan peran kreatif hubungan seksual dari ungkapan kasih secara alami. Namun, Paus menekankan untuk mengedepankan cinta dan kasih sayang dalam menangani permasalahan ini (Hadi, et al., 2000).

 

Penutup

Kontrasepsi merupakan permasalahan baru di jaman ini yang menimbulkan kebingungan bagi tiga agama terbesar di dunia untuk menentukan sikap terkait permasalahan ini. Akan tetapi secara umum ketiga agama saat ini memperbolehkan penggunaan alat kontrasepsi. Namun, hendaknya alat kontrasepsi ini tidaklah digunakan sebagai sarana untuk bersenang-senang saja tetapi lebih kepada sebuah jalan untuk melakukan kewajiban sebagai orang tua dengan lebih baik.

Wallahu ta’ala a’lam bishowab.

 

Referensi

  • Sinsin, L. 2008. SKIA Masa Kehamilan & Persalinan. Jakarta: Gramedia.
  • Brooker, C. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Stright, B.C. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir, Edisi 3. Jakarta: EGC.
  • Hadi, S., Danes, H, Christoper. 2000. Masalah-Masalah Moral Sosial Aktual dalam Perspektif Iman Kristen. Kanisius: Yogyakarta.

Day 7725, Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana.
Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lainnya. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan!
Tenun kebangsaan itu dirobek, diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal. Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan? Tidak! Republik ini tak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang, bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya. Mereka tidak sekadar melanggar hukum, tetapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini.
Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan. Tenun kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bineka. Kebinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah! Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan. Perajutan tenun ini pun belum selesai. Ada proses terus-menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar-unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.

Warga Negara, Penganut Agama
Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan ”warga negara” dan ”penganut sebuah agama”. Perbedaan aliran atau keyakinan tak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan, bahkan ribuan tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus dan belum ada tanda akan selesai minggu depan. Jadi, di satu sisi, negara tak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tetapi semua warga negara republik sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.
Negara memang tak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Namun, negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi, dialog antar-pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apa pun boleh, begitu berubah jadi kekerasan, maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya. Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antarpenganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antarwarga senegara.
Dalam menegakkan hukum, negara harus melihat semua pihak semata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan. Aparat keamanan harus hadir melindungi ”warga-negara” bukan melindungi ”pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, aparat hadir untuk menangkap ”warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap ”pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan.
Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tak cukup dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau ”bertarung” menghadapi para perobek itu. Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bineka tetapi lunglai saat mempertahankan negara bineka.
Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas. Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek hampir pasti tak bisa memulihkannya. Tenun yang robek selalu ada bekas, selalu ada cacat.
Ada seribu satu pelanggaran hukum di Republik ini, tetapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk menyejahterakan bangsa semua orang boleh ”turun-tangan”, tetapi menegakkan hukum hanya aparat yang boleh ”turun-tangan”. Penegak hukum dibekali senjata tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, melainkan untuk melindungi warga negara saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang ”bertarung” melawan para perobek. Saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat tetapi tak ada kebebasan melakukan kekerasan.
Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplet. Jadi, begitu ada warga negara yang pilih melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, sikap negara hanya satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan! Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar, memilih kekerasan sama dengan memilih diganjar dengan hukuman menjerakan. Ada kepastian konsekuensi.
Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan negara yang bineka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebinekaan itu secara tanpa syarat. Biarkan kita semua—dan kelak anak cucu kita—bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.

Anies Baswedan

Lihat tulisannya di http://aniesbaswedan.com/tulisan/Ini-Soal-Tenun-Kebangsaan-Titik

Day 7696, Babad Diponegoro (2)

(5)
Miwah ingkang wewangunan
sadaya apan wus salin
Kangjeng Pangran darmanira
lamun alelana iki
nenggih Syeh Ngabdulrahkim
kalamun aneng praja gung
Pangran Dipanagara
dadya ana ma kakalih
ingkang yuswa sampun kalih dasa warsa.

(6)
Namung wegi karemannya
wau ingkang den lampahi
mangkana ciptaning driya
ing siyang kalawan latri
sapira neng dunyeki
dadya karem ing tyasipun
marang purbaning suksma
nanging sipat ngaral maksih
asring kenging ginodha dhateng wanodya.

(7)
Yen kala enget tyasira
marang wekasan dumadi
nulya kesah alelana
anjajah sagunging masjid
apan nunggal lan santri
kang kathah-kathah puniku
langkung amati raga
angagem kang sarwa laip
marmanira awis kang jalma uninga.