Home » Ceritaku » Day 7682, Belajar dari Babad Diponegoro (1)

Day 7682, Belajar dari Babad Diponegoro (1)

1.
Ron kamal mangka purwaka
bakuning sedya ngleluri
kang karsaning Sang Nararya
kang kontap satanah Jawi
yeka ta sang Wirasti
Pangran Dipanegara Gung
denira sampun tandang
mengeti lakyan pribadi
wiwit keremira ring reh agama.

2.
nDherek eyang buyutira
Jeng Ratu Ageng winarni
dhedhekah ing Tegalhaija
suruting buyut lestari
neng Tegalhaija maksih
Pangeran sangsaya mungkul
marang rehing agama
sahayangin kawula kang tyas rahaija.

3.
Iya wus karsaning suksma
Pangeran Dipanegari
kedah memuri kang eyang
buyut mapan karsaneki
karem marang agami,
dadya sangsaya puniku
lan kang eyang Jeng Sultan
dadya awis sowan neki
mung garebeg punika kang mesthi ana.

Di atas, dapat kita lihat 3 bait pertama dari Babad Diponegoro yang dialihaksarakan oleh Ny. Dra. Ambaristi dan Lasman Marduwiyota yang diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka. Ketiga bait pertama tersebut ditulis dengan Guru Lagu (huruf vokal terakhir), Guru Gatra (jumlah baris), dan Guru Wilangan (jumlah suku kata) yang mengarah pada macapat tembang “sinom”. Sinom sendiri berarti muda, sehingga dapat diartikan bahwak ketiga bait di atas bercerita tentang masa muda dari sang pangeran Diponegoro. Nah, dalam Babad Diponegoro terdapat 45 bait tembang sinom.

Pelajaran apa sih yang bisa di ambil dari 3 bait di atas? Nah, karena saya bukan ahli bahasa Jawa, tapi hanya memiliki darah Jawa Tengah (Karanganyar) asli, maka saya saat ini akan berusaha untuk memahami sejauh ingatan saya akan bahasa Jawa. Menurut saya, bait pertama itu menceritakan tentang sosok Pangeran Diponegoro yang terkenal seantero tanah Jawa sebagai seorang pemberani dan rela berkorban. Selain itu, Sang Pangeran juga dikenal sebagai orang yang taat kepada agama. Pada bait kedua diceritakan bahwa Sang Pangeran diasuh oleh buyutnya yaitu Ratu Agung yang berdomisili di Tegalhaija (Tegalrejo). Dalam pengasuhan beliaulah Sang Pangeran menjadi pribadi yang hormat serta patuh pada orang tua dan agama. Bait 3 menceritakan,  bahwa Sang Sulatn (HB I ,-red) yang memerintahkan secara khusus supaya Pangeran diasuh oleh buyutnya. Bait ini juga menegaskan kembali bahwa asuhan dari sang buyut membuat Pangeran menjadi seorang yang taat pada agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s