Home » Ceritaku » Day 7691, Sesuatu Tentang Senat

Day 7691, Sesuatu Tentang Senat

Sebelum masuk ke pembahasan ada baiknya kita cermati puisi Sajak Anak Muda karya W.S. Rendra berikut ini,

Sajak Anak Muda

karya: W.S. Rendra

Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua?

Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.

Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.

Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.

Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?

Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan –
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.

Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengagguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?

Apakah ini? Apakah ini?

Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini?

Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?

Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tata warna yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar ke arah udara.

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977

So, sebenarnya kita sebagai pemuda masa kini harus paham, bahwa kita hidup di era demokrasi, dimana setiap suara kita menentukan orang-orang yang duduk di parlemen. Kita tentu menginginkan orang-orang yang tepat untuk menghasilkan undang-undang yang tepat yang pada gilirannya mampu memberikan efek positif bagi seluruh bangsa ini. Nah, salah satu tempat dimana kita bisa bereksperimen tentang kehidupan politik di era demokrasi adalah pemerintahan mahasiswa. UGM, sebagai universitas tertua di Indonesia, memiliki pemerintahan mahasiswa yang baik karena UGM merupakan “Indonesia Kecil”. Legislatif pada pemerintahan mahasiswa di UGM dipegang oleh SM KM UGM (Senat Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM) yang pada gilirannya berfungsi untuk menghasilkan produk legal guna mengatur tata peraturan mahasiswa di UGM.

SM KM UGM saat ini, saya lihat, masih merupakan sebuah kumpulan orang-orang dengan “kepentingan” lain. Kita dapat lihat dengan teliti bahwa kehidupan senator di SM KM UGM tidak lain hanya berupa hegemoni dari berbagai gerakan eksternal yang ada di UGM, seperti HMI, KAMMI, IMM, PMII, GMNI, dan GMKI. Keseluruhan gerakan tersebut berebut menancapkan cakarnya untuk meraih dominasi di SM KM UGM. Hal yang membuat miris, adalah ketika kader-kader HMI, IMM, PMII, GMNI, dan GMKI bersatu untuk meruntuhkan dominasi dari kader-kader KAMMI. Kenapa saya bilang miris?

Miris, karena sesungguhnya kader dari 5 gerakan tersebut memiliki dasar ideologis yang berbeda, namun pada akhirnya bersatu hanya demi kepentingan semu semata. Sebuah wujud bahwa ideologi hanya sebatas teori sehingga dibuang dan digantikan dengan kepentingan pragmatis. Seharusnya, kita melihat bahwa yang bersatu adalah HMI, IMM, PMII, dan KAMMI mengingat semuanya berideologi Islam dan Pancasila. Namun, sayangnya hal ini tidak dapat kita lihat, karena tampaknya ideologi sudah bukan hal yang mereka perjuangkan, tetapi hanya sekedar barang lalu saja..

Sama seperti puisi Rendra di atas, tampaknya kehidupan senat mahasiswa hanyalah kumpulan orang-orang pragmatis yang haus akan kekuasaan. Rakyat mahasiswa tidak ada yang merasa punya wakil di SM KM UGM,, hanya para “aktivis”-lah yang merasa punya wakil di sana. Kalau dilihat lagi, berapa banyak mahasiswa yang mengeluh ke SM KM UGM? berapa sering para senator bertanya ke mahasiswa tentang permasalahan meraka? apa yang selama ini dibahas waktu rapat-rapat SM KM UGM? Hmm.., tampaknya sedikit yang membahas soal mahasiswa.

Baru-baru ini, saya, sebagai seorang senator dari Partai Bunderan datang ke beberapa mahasiswa untuk menanyakan apa permasalahan mereka. Salah satu mahasiswa berujar, bahwa harusnya gelanggang lantai atas diberi CCTV, karena beberapa kali barang di sekre UKM Misa Kampus dan UKM UKK sering kecurian. Aneh memang, untuk hal yang ada di dekat sekre kami, ternyata baru saya ketahui ketika bertanya ke salah satu mahasiswa yang ada di Fakultas. Mungkin selama ini para senator terlalu silau dengan kekuasaan, terlalu meributkan hal-hal elitis, tanpa pernah bersentuhan dengan mahasiswa.

Semoga 3 bulan pertama ini cukup menjadi pembelajaran, bahwa kedepannya SM KM UGM harus lebih merakyat dan membela mahasiswa daripada sekedar perdebatan semu tanpa hasil. Semoga kedepannya SM KM UGM dapat menunjukkan fungsinya bagi segenap mahasiswa KM UGM sehingga bisa mengimbangi kerja yang telah dilakukan BEM KM UGM.

Viva legislativa!! Hidup Mahasiswa Indonesia!!

Penulis adalah wakil ketua 1 SM KM UGM 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s