Home » Ceritaku » Day 7744, Kontrasepsi Dalam Perspektif Agama

Day 7744, Kontrasepsi Dalam Perspektif Agama

Ayah     : Bunda pasang IUD dong.., biar kita bisa kasih jarak buat anak kita..

Bunda   : Nggak mau, Yah.., bukannya IUD itu haram ya? Kan itu memutus kehamilan kan? Padahal Nabi ingin melihat umatnya bertebaran di muka bumi kan, Yah?

Ayah     : Ya maksudnya bukan itu Bun.. Tapi kan kita perlu merencanakan jarak kelahiran anak kita, biar nanti kita nggak kesulitan soal pembiayaan pendidikannya?

Bunda   : Ayah nih, mikirnya uang melulu… Kita harusnya percaya kalau rezeki itu ada di tangan Allah, jadi kita hanya perlu berusaha mencarinya.

Ayah     : Iya sih Bun, tapi kan kita juga harus merencanakan masa depan dengan baik..

Bunda   : Nggak ah Yah, Bunda takut kontrasepsi. Bunda takut dosa..

Ayah     : hmm… (menghela nafas).

 

Dialog di atas merupakan sepenggal kisah yang terjadi pada umat muslim akhir-akhir ini. Mayoritas umat muslim merasa ragu-ragu untuk segera memiliki anak dikarenakan besarnya biaya yang harus ditanggung agar dapat membesarkan seorang anak dengan baik. Namun, tidak sedikit pula yang ragu tentang boleh atau tidaknya mekakai alat kontrasepsi. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita teliti dulu apa itu kontrasepsi?

 

Pengertian Kontrasepsi

Dalam ilmu kedokteran modern, kontrasepsi memiliki beberapa pengertian yang dapat saling melengkapi satu sama lain. Sinsin (2008) berpendapat bahwa kontrasepsi adalah alat atau obat yang bertujuan untuk menjarangkan kehamilan. Brooker (2009) berpendapat agak berbeda, kontrasepsi bukanlah obat namun kontrasepsi adalah metode yang digunakan untuk mengatur jarak kehamilan dan mengatur jumlah anak, atau mencegah untuk mencapai konsepsi. Lain halnya dengan Stright (2005) yang berpendapat bahwa kontrasepsi adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran. Kesimpulannya, kontrasepsi merupakan semua proses, alat, metode, maupun obat yang bertujuan untuk mencegah konsepsi sehingga dapat mengatur jarak kehamilan dan jumlah anak.

Nah, setelah pengertian kontrasepsi jelas, berikutnya adalah tentang jenis-jenis kontrasepsi.

 

Jenis-Jenis Kontrasepsi

Jika dibedakan menurut cara kerjanya kontrasepsi dapat diklasifikasikan menjadi empat metode non-permanen dan satu metode permanen yang dijelaskan sebagai berikut (Brooker, 2009):

  1. Metode perintang, yaitu menghalangi fertilisasi dengan cara mencegah pertemuan antara sperma dan oosit (sel telur). Metode ini meliputi cervical cap, diafragma, kondom, dan kondom wanita.
  2. Metode hormonal, yakni mencegah ovulasi atau implantasi jika oosit sudah dibuahi. Metode ini termasuk kontrasepsi oral, baik kombinasi hormon estrogen-progesteron, pil progesteron (mini-pil), progestogen lokal melalui injeksi maupun implant subdermal, alat kontrasepsi dalam rahim berisi progesteron saja, dsb.
  3. Metode alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah mencegah implantasi dengan berbagai alat yang berfungsi untuk melepaskan dan melembamkan progesteron. AKDR yang mengandung tembaga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat jika dipasang dalam 5 hari setelah hubungan seksual tanpa pelindung.
  4. Membunuh sperma (Spermisida) dalam bentuk busa, pesarium, dan spons yang biasanya dikombinasikan dengan metode perintang.
  5. Metode permanen dengan cara merusak alat reproduksi pada pria dan wanita. Misalnya: tubektomi pada wanita atau vasektomi pada pria.

 

Jadi IUD yang dipermasalahkan di atas termasuk dalam metode AKDR yang berfungsi untuk mencegah implantasi yang sifatnya tidak permanen. Setelah tahu pengertian dan jenisnya berikutnya kita akan membahas fatwa ulama terkait alat kontrasepsi.

 

Alat Kontrasepsi Dalam Pandangan Islam

Alat kontrasepsi merupakan hal baru yang muncul di jaman ini. Pada masa dahulu, umat Islam hanya mengenal ‘Azl sebagai satu-satunya cara untuk menunda kehamilan. Keberadaan ‘Azl dibuktikan dari hadis Jabir Radhiyallahu’anhu. Beliau berkata, “Kami melakukan ‘azl pada masa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dimana al-Qur’an masih terus diturunkan, dan hal tersebut diketahui oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam tetapi beliau tidak melarangnya.” (HR. Al-Bukhari (no. 5209), Muslim (no. 1440)). ‘Azl tidak diperbolehkan secara mutlak, tetapi terdapat syarat-syarat yang memperbolehkan ataupun melarangnya. Namun, pada dasarnya ‘Azl hanya menunda atau mengatur kehamilan (Tandhim Nasl), bukan memutus kehamilan (Tahdid Nasl).

Mayoritas ulama zaman ini seperti Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad’i, Syaik Shalih bin Utsaimin, dan Syaikh Bin Baaz berpendapat bahwa kontrasepsi diperbolehkan, selama tidak menunda kehamilan secara mutlak dan memiliki alasan kuat. Alasan kuat di sini artinya, sang Ibu berada dalam bahaya jika hamil kembali atau Ibu tersebut ingin menunda untuk menyusui dan membesarkan anaknya. Tentu saja jika alasan tersebut berhubungan dengan kondisi medis, maka harus atas saran dari dokter spesialis kandungan.

Hal berbeda adalah membatasi keturunan atau memutus kehamilan (Tahdid Nasl). Jika sebuah keluarga bersepakat untuk membatasi anak hanya dengan dua orang saja dengan tujuan untuk mempermudah dalam urusan dunia. Maka , hukum membatasi keturunan dengan tujuan seperti ini dalam agama Islam diharamkan secara mutlak. Hal ini diterangkan oleh Lajnah daaimah yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Fatawal Lajnatid Daaimah, (9/62) no (1584). Selain itu, berbagai lembaga yang bergerak dalam keilmuan Islam juga melarang adanya pemutusan keturunan secara mutlak, yang dicerminkan dalam Keputusan Muktamar Lembaga Riset Islam Kedua di Kairo (1385H/1965M), Keputusan Majelis Pendiri Rabithah Alam Islami pada sidang ke 16, keputusan MUI dalam Sidang ijtima’ Majelis Ulama Indonesia di Padang Panjang pada tanggal 24-6 Januari 2009, dan Keputusan majelis al Majma’ al Fiqhil Islami (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (30/286)). Pembatasan keturunan bertentangan dengan tujuan-tujuan agung syariat Islam yang menyarankan pada umatnya untuk memperbanyak keturunan.

 

Diskusi Mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Pandangan Islam

Al Qur’an memandang anak-anak sebagai sumber kebahagiaan di dunia (QS An Nahl: 72, QS Al Kahfi: 46). Di dalam Al Qur’an tepatnya surat An Nisa’ ayat 9 telah diterangkan bahwa orang tua harus mendidik anak-anaknya hingga menjadi orang yang kuat. Namun, dalam surat Al Isra’ ayat 31 kita dicegah untuk membunuh anak-anak kita jika takut miskin karena rezeki datangnya dari Allah.

Terdapat pula berbagai hadist yang menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan lelaki untuk menikah dengan wanita yang bisa memiliki banyak anak. ”Nikahilahwanitayang banyakanaklagi penyayang,karenasesungguhnyaaku berlomba-lombadalambanyakumatdenganumat-umatyang laindiharikiamat(dalam riwayatyang lain:denganparanabi diharikiamat)“.[HaditsShahihdiriwayatkanoleh Abu Daud 1/320,Nasa’i2/71,IbnuHibbanno.1229,Hakim2/162(lihattakhrijnyadalam Al-Insyirahhal.29 AdazbuzZifafhal60);Baihaqi781,AbuNu’aimdalamAl-Hilyah3/61-62]/ Memiliki anak juga merupakan salah satu wasilah untuk menggapai surga Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (Kitab al-Maudhuuaat (2/281), al-’Ilal mutanaahiyah (2/636) keduanya tulisan imam Ibnul Jauzi, dan Silsilatul Ahaaditsidh Dha’iifah” (no. 3580)). Kedua hal di atas secara tidak langsung meminta kepada umat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk memiliki banyak keturunan dan menghindari untuk membatasi keturunan.

 

Kontroversi Kontrasepsi Tidak Hanya Dalam Ajaran Islam

Pada awalnya, semua Gereja Kristen mengajarkan pada umatnya bahwa kontrasepsi itu dosa. Dikatakan bahwa Alah memaksudkan seks untuk penciptaan kehidupan baru dan orang tidak boleh mencampurinya. Namun, saat ini gereja-gereja kristen telah memperbolehkan alat kontrasepsi dengan mempertimbangkan bahwa seks bukan sekedar membuat anak (Hadi, et al., 2000).

Sikap Gereja Katolik terkait kontrasepsi ditetapkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1968 dengan mengeluarkan ensiklik tentang ‘Hidup Manusia’ (Humanae Vitae), yang pada intinya menolak kontrasepsi dikarenakan bertentangan dengan Hukum Kodrat, menyebabkan masyarakat memandang perempuan sebagai permainan seksual, dan memisahkan peran kreatif hubungan seksual dari ungkapan kasih secara alami. Namun, Paus menekankan untuk mengedepankan cinta dan kasih sayang dalam menangani permasalahan ini (Hadi, et al., 2000).

 

Penutup

Kontrasepsi merupakan permasalahan baru di jaman ini yang menimbulkan kebingungan bagi tiga agama terbesar di dunia untuk menentukan sikap terkait permasalahan ini. Akan tetapi secara umum ketiga agama saat ini memperbolehkan penggunaan alat kontrasepsi. Namun, hendaknya alat kontrasepsi ini tidaklah digunakan sebagai sarana untuk bersenang-senang saja tetapi lebih kepada sebuah jalan untuk melakukan kewajiban sebagai orang tua dengan lebih baik.

Wallahu ta’ala a’lam bishowab.

 

Referensi

  • Sinsin, L. 2008. SKIA Masa Kehamilan & Persalinan. Jakarta: Gramedia.
  • Brooker, C. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Stright, B.C. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir, Edisi 3. Jakarta: EGC.
  • Hadi, S., Danes, H, Christoper. 2000. Masalah-Masalah Moral Sosial Aktual dalam Perspektif Iman Kristen. Kanisius: Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s