Home » Gizi » L-karnitin Meningkatkan Kesehatan Jantung

L-karnitin Meningkatkan Kesehatan Jantung

Terjemahan dengan penyesuaian dari artikel:
L-Carnitine Linked to Cardiac Health — Research Suggests This Amino Acid Could Help Cardiac Patients
By Christin L. Seher, MS, RD, LD
Today’s Dietitian
Vol. 15 No. 9 P. 76

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rutin mengkonsumsi L-carnitine dapat meningkatkan kesehatan pasien penyakit jantung.

L-karnitin alami ditemukan pada daging merah sedangkan bentuk sintetisnya telah ditemukan pada berbagai macam suplemen. L-karnitin memainkan peranan penting dalam metabolisme energi dan regulasi glukosa darah. Pada jaringan otot dan miokardia jantung, L-karnitin membantu transportasi asam lemak rantai panjang sepanjang membran dalam mitokondria dimana mereka menjadi substrat utama dalam produksi energi dan mengalami metabolisme melalui beta-oksidasi.

Di dalam jantung, L-karnitin menjadi sangat penting saat miokardium melakukan oksidasi asam lemak rantai panjang untuk energi (1). Sebagai tambahan dalam perannya pada produksi energi, L-karnitin membantu menghilangkan racun dari dalam mitokondira, mengurangi stres oksidatif, menghambat akumulasi ester asam lemak selama kejadian iskemik (berkurangnya aliran darah yang menyebabkan sel mengalami perubahan sifat fungsional), dan mencegah terjadinnya apoptosis (kematian) sel jantung (1,2).

Dikarenakan pentingnya dalam jalur metabolik, L-karnitin dipasarkan secara umum sebagai suplemen gizi, diklaim sebagai sebuah cara untuk meningkatkan produksi energi, membantu penurunan berat badan, dan meningkatkan performa atlet. Sampai saat ini, bagaimanapun, klaim ini masih belum dibuktikan dengan konsensus dari penelitian klinis. Bahkan, penelitian tentang suplementasi L-karnitin pada atlet memberikan hasil yang mengecewakan. Saat jumlah plasma darah menunjukkan peningkatan dengan suplementasi, konsenstrasi L-karnitin dalam otot tidak selalu meningkat, dan tidak konsisten dalam mempengaruhi performa (3).

Menurut Janet Bond Brill, PhD., R.D., LDN., seorang ahli kesehatan jantung dan penulis buku Blood Pressure Down!, dikarenakan L-karnitin disintesikan dari tubuh melalui asam amino lisin dan metionin, “Tubuh membuat L-karnitin dalam jumlah cukup, sehingga ini bukanlah zat gizi esensial; kita tidak butuh untuk memakan atau meminumnya dalam bentuk suplemen.” Hal ini merupakan kebenaran pada mayoritas populasi.

Penelitian terbaru yang mengamati efek dari suplementasi L-karnitin pada pasien jantung menunjukkan hasil yang menjanjikan, dikarenakan hasil kajian menunjukkan bahwa menjaga kadar asam amino dalam otot jantung mampu memberikan beberapa manfaat protektif, memberikan petunjuk untuk penelitian lebih lanjut, apakah L-karnitin mampu secara efektif mengobati penyakit jantung.

Tinjauan Analisa Meta (Meta-Analysis)

Penelitian menunjukkan bahwa mengembalikan karnitin miokardial – dimana dapat berkurang secara cepat saat kejadian iskemik seperi infark miokard (MI) dan pengurangan substansial pada jaringan jantung yang berpenyakit- menjadi tingat yang adekuat meningkatkan fungsi jantung dan mengurangi pelebaran bilik kiri jantung, faktor kunci yang mampu membantu mengurangi masalah jantung lainnya, gagal jantung, bahkan kematian (2). Saat penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat, potensi L-karnitin untuk mengurangi stres kardiak lebih lanjut memiliki pengaruh yang luas.

Untuk alasan itulah, sebuah tim peneliti baru-baru ini dibentuk untuk secara formal mengamati efek suplementasi L-karnitin pada kesehatan jantung. Hasil dari meta-analysis dipublikasikan pada bulan Juni dalam Mayo Clinic Proceedings, yang mengindikasikan lebih lanjut bahwa L-karnitin adalah salah satu suplemen yang wajib diamati (2).

Tim Peneliti memeriksa 13 penelitian klinis yang dilakukan pada 30 tahun terakhir, mewakili lebih dari 3.600 pasien jantung, untuk menginvestigasi efek dari suplementasi L-karnitin pada pasien dengan sejarah MI akut. Tim peneliti menyimpulkan bahwa L-karnitin memiliki potensi sebagai terapi murah dan aman bagi pasien jantung setelah analisa mereka membuktikan bahwa terjadi penurunan signifikan dari mortalitas yang diakibatkan seluruh penyebab (27%), penurunan yang sangat signifikan pada aritmia ventrikel (65%), dan sebuah penurunan signifikan dalam perkembangan dari angina (40%) (2). Akan tetapi analisa ini gagal menunjukkan adanya hubungan antara suplementasi L-karnitin dan penurunan angka kejadian dari MI berulang atau gagal jantung.

Penulis jurnal secara memberikan tanda spesifik pada potensi efek protektif dari suplemen ini untuk mengembalikan L-karnitin miokardial kembali pada kandungan yang lebih optimal, yang membutuhkan peningkatan fungsi metabolik jantung.

Menurut penulis jurnal, kelemahan terbesar dari penelitian ini adalah sebuah kenyataan bahwa banyak penelitian yang dimasukkanke dalam analisa ini dilakukan pada era pengobatan yang “kurang agresif”, yaitu dimana perubahan diet merupakan fokus penanganan dari penyakit jantung, dan pengobatan yang berbeda dibandingkan yang sekarang direkomendasikan. Untuk alasan inilah, penulis mencatat bahwa penelitian lanjutan diperlukan terutama dengan memasukkan protokol penanganan saat ini untuk sindroma koroner akut dan standarisasi dosis dari L-karnitin yang digunakan.

Dari 13 penelitian yang diamati, penulis jurnal menyimpulkan bahwa dibutuhkan dosis minimal  L-karnitin sebesar 2 g/hari, akan tetapi jumlah optimal berada di antara 6-9 g/hari. Meskipun demikian, pola dosis tepatnya masih belum jelas.

Pasien Ginjal

Selain individu dengan MI akut, populasi pasien lain mungkin mendapatkan manfaat dari suplemen L-karnitin juga. Penelitian dari fungsi jantung pada pasien hemodialisis penyakit ginjal stadium akhir, sebagai contoh, juga menunjukkan beberapa peningkatan saat asupan L-karnitin meningkat (4,5). Hal ini termasuk peningkatan aliran darah dan pengurangan aritmia tanpa menyebabkan hipertropi bilik kiri jantun atau peningkatan tekanan darah diastol (4).

Saat penyakit kardiovaskular seperti penyakit arteri koroner, Mi, dan gagal jantung menjadi penyebab lebih dari 50% kematian pada populasi pasien (5), potensi dari L-karnitin untuk meningkatkan fungsi jantung menyebabkan investigasi lebih lanjut. Lebih jauh lagi, penelitian mengindikasikan bahwa L-karnitin membantu mengurangi lama waktu pasien untuk melakukan dialisis, hal ini mengindikasikan bahwa pada pasien dengan kondisi jantung normal juga membutuhkan suplementasi pada saat dialisis (4).

L-karnitin vs dagingBukti yang Bertentangan

Meskipun terdapat manfaat yang diterima beberapa individu dengan suplementasi, tetaplah penting dipertegas bahwa asupan kronis dari L-karnitin dalam dosis tinggi secara konsisten berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit jantung. “Penelitian terbaru meningkatkan perhatian tentang asupan kronis dari karnitin dalam jumlah banyak dari daging merah.” (6) Brill berkata, “L-karnitin dimetabolisme oleh mikrobiota usus menghasilkan trimetilamin-N-oksida, dan zat aterogenik yang meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler.” Bukti yang bertentangan seperti ini menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh dari suplementasi L-karnitin lebih baik melalui suplementasi sintetis daripada sumber dalam bentuk makanan (diet).

Untuk saat ini, Ahli Gizi/ Nutrisionis/ Dietisien yang bekerja dengan pasien jantung harus selalu jeli dalam mengamati bahwa L-karnitin merupakan suplemen yang potensial. Seperti yang diutarakan Brill, saat suplementasi jangka pendek pada pasien dengan sindrom koroner akut memberikan hasil yang menjanjikan menurut riset saat ini, dibutuhkan lebih banyak data sebelum manfaat suplementasi pada pasien MI akut menjadi prosedur rutin atau sebelum protokol penggunaannya menjadi lebih jelas.

Bahkan yang lebih penting lagi, Brill memberitahukan pada para praktisi untuk mengingat bahwa “Paparan jangka panjang dari L-karnitin memalui diet tinggi daging merah tidaklah bijaksana, mengingat banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa tipe diet ini meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan kematian prematur.”

References
1. Oyanagi E, Yano H, Uchida M, Utsumi K, Sasaki J. Protective action of L-carnitine on mitochondrial function and structure against fatty acid stress. Biochem Biophys Res Commun. 2011;412(1):61-67.
2. DiNicolantonio JJ, Lavie CJ, Fares H, Menezes AR, O’Keefe JH. L-carnitine in the secondary prevention of cardiovascular disease: systematic review and meta-analysis. Mayo Clin Proc. 2013;88(6):544-551.
3. McArdle WD, Katch FI, Katch VL. Sports and Exercise Nutrition. 4th ed. Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins; 2012.
4. Khosroshahi HT, Habibi-Asl B, Toufan M, Ghabili K, Safarpour S. Effects of oral L-carnitine on cardiac abnormalities of maintenance hemodialysis patients. Biomed Int. 2010;1:30-33.
5. Molyneux R, Seymour AM, Bhandari S. Value of carnitine therapy in kidney dialysis patients and effects on cardiac function from human and animal studies. Curr Drug Targets. 2012;13(2):285-293.
6. Koeth RA, Wang Z, Levison BS, et al. Intestinal microbiota metabolism of L-carnitine, a nutrient in red meat, promotes atherosclerosis. Nat Med. 2013;19(5):576-585.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s