Home » Gizi » Agama Islam, Kristen dan Hindu Sama-Sama Memiliki Aturan tentang Makanan

Agama Islam, Kristen dan Hindu Sama-Sama Memiliki Aturan tentang Makanan

Detik Food – Pada tanggal 10 Oktober 2014, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) berkunjung ke Universitas Udayana (Unud) Bali untuk melakukan seminar tentang “Tinjauan Produk Halal” yang menghadirkan pembicara dari kalangan Islam, Kristen dan Hindu. Perbincangan lintas agama ini didesain suapaya sosialisasi halal yang dilakukan di Unud dapat berjalan lancar, mengingat mayoritas mahasiswa di Unud beragama Hindu,
Seminar tersebut merupakan bagian dari program ‘Halal Masuk Kampus’. Sekitar 60 orang dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud menghadiri seminar tersebut. Pembicara sendiri terdiri dari tiga dosen dari latar belakang agama berbeda, mereka adalah Prof. Dr. drh. Iwan H. Utama, MS. (Kristen), Dr. drh. I Ketut Suatha, MSi. (Hindu), dan drh. Mas Djoko Rudyanto, MS. (Islam).

Prof. Iwan menyampaikan bahwa dalam ajaran Kristen dikenal ‘makanan bersih dan kotor’. Inti dari konsep tersebut, bahwa makanan itu dapat memberikan manfaat tetapi ada pula yang dapat menjadi pembunuh bila tidak dikonsumsi secara bijaksana. Konsep tersebut diatur dalam Alkitab Perjanjian Lama, di antaranya Imamat Ps. 3 (3-10, 17), Ps. 10 (19, 20), Ps. 11 (2-47), Ps. 17 (3-15), Ulangan Ps. 14 (3-21), Ps. 15 (19-23), dan Keluaran Ps. 29 (13, 22).

Makanan yang bersih adalah yang berasal dari hewan berkuku belah dan memamah biak (sapi, kambing, domba, rusa, kijang), bersirip dan bersisik di dalam air, merayap, serta bersayap, dan melompat (belalang). Sementara itu, makanan kotor antara lain adalah hewan yang tidak berkuku belah dan memamah biak (unta, kelinci, marmot, pelanduk), berkuku belah dan tidak memamah biak (babi, babi hutan), serta tidak berkuku belah dan tidak memamah biak (kuda). Begitu pula dengan hewan tidak bersirip dan bersisik (belut, lele, udang, kepiting, cumi), burung (rajawali, burung hantu, elang, bangau, camar, kelelawar, gagak, pungguk), serta hewan merayap dan berkeriapan (tikus, katak, landak, biawak, bengkarung, siput, bunglon). Persembahan kepada berhala, darah, bangkai, hewan yang mati dicekik, hewan pencabulan, serta anak sapi, domba, atau kambing jantan tertua juga tergolong makanan kotor. Akan tetapi efek langsung bagi tubuh masih belum diketahui.

Prof. Iwan menyayangkan, pergantian konsep dari hukum (Perjanjian Lama) ke anugerah (Perjanjian Baru) menimbulkan ketidaktahuan, ketidakmautahuan, serta sikap gambling terhadap makanan yang ada tanpa memperhatikan unsur kesehatan.

Di sisi lain Dr. Ketut menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu tidak dikenal istilah ‘halal’, melainkan tatwa triguna‘. Sementara itu, makanan terlarang dalam Bahasa Sansekerta disebut amedhyam. Selain sumber makanan, cara berpikir (manah), berkata (wak), sikap (solah pawerti), dan perilaku (kaya) diyakini sangat dipengaruhi makanan. Makanan pun dapat memengaruhi jasmani (raga sarira) dan rohani (sukma sarira). Penjelasan lebih dalam mengenai makanan terdapat dalam kitab Bhagavad Gita Sloka 17 awu7-10.

Dalam ajaran Hindu, terdapat tiga pengelompokan makanan.

  1. Satwikaguna, yakni makanan yang jika dikonsumsi dapat meningkatkan kualitas hidup, memanjangkan umur, menambah tenaga, menghadirkan rasa nyaman, mempertinggi kecerdasan, serta menyehatkan. Contohnya adalah makanan yang memiliki banyak sari, berlemak, bergizi, dan menyenangkan hati.
  2. Rajasikaguna yang jika dikonsumsi dapat menimbulkan emosi, sakit, atau duka cita. Misalnya, makanan yang terlalu pahit, asam, pedas, kering, panas atau menyebabkan badan terasa panas, atau banyak bumbu.
  3. Tamasikaguna yang menyebabkan malas, tak peduli, pasif, keras kepala, dan bodoh. Contohnya adalah makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan hambar, makanan yang menginap dan sering dipanaskan, makanan basi dan busuk, makanan sisa orang lain, serta bahan haram yang disukai orang-orang yang bersifat gelap.

Diskusi ditutup dengan penjalasan drh. Djoko tentang penjelasan halal dalam Islam. Materi yang disampaikan di antaranya tentang konsep halal dan tayib, standar penyembelihan halal menurut fatwa MUI Nomor 12 tahun 2009, serta logo dan sertifikat halal.

SUMBER: LPPOM MUI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s